Tren quiet cracking dan quiet quitting sempat ramai jadi topik obrolan kantor beberapa tahun terakhir. Karyawan cuma mengerjakan tugas sesuai deskripsi kerja, tanpa ekstra effort, dan tanpa inisiatif tambahan. Fenomena ini muncul sebagai respons dari burnout, kurang apresiasi, sampai ekspektasi kerja tak seimbang. Ada sisi lain dari cerita ini, versi lebih optimis yaitu konsep job flourishing, kondisi kerja optimal saat karyawan merasa berkembang, terlibat penuh, dan puas secara emosional. Artikel ini kupas tuntas soal job flourishing, mulai dari definisi, elemennya, sampai cara perusahaan membangunnya.
Apa Itu Job Flourishing?
Job flourishing adalah kondisi psikologis positif karyawan di tempat kerja, mencakup rasa bermakna, keterlibatan aktif, hubungan sosial sehat, pencapaian, serta emosi positif secara konsisten. Konsep ini berakar dari teori PERMA milik psikolog Martin Seligman, lalu diadaptasi khusus ke konteks kerja oleh peneliti psikologi organisasi.
Berbeda dari sekadar kepuasan kerja atau job satisfaction, job flourishing ini lebih menyeluruh. Karyawan flourishing bukan cuma nyaman dengan gaji atau posisi, melainkan merasa pekerjaannya punya arti, berkembang lewat tantangan, serta terhubung baik dengan rekan dan atasan.
Baca Juga: Fenomena Quite Cracking: Diam-Diam Lelah, Tapi Tetap Kerja Seperti Biasa
Job Flourishing vs Quiet Quitting: Dua Arah Berlawanan
Dua konsep ini sering disandingkan karena efeknya berlawanan terhadap engagement karyawan. Dari sisi orientasi kerja, karyawan flourishing aktif berkembang dan cari makna kerja, sementara karyawan quiet quitting cenderung kerja minimum, sekadar penuhi kewajiban. Dari sisi keterlibatan, flourishing identik dengan sikap proaktif mengajukan ide, sedangkan quiet quitting identik dengan sikap pasif, cenderung menghindari tanggung jawab ekstra.
Kondisi emosional pun berbeda arah. Karyawan flourishing merasa optimis, puas, dan terhubung dengan tim, sementara karyawan quiet quitting cenderung jenuh, terasing, dan mundur diam-diam. Bedanya makin terasa di dampak jangka panjang. Flourishing mendorong retensi tinggi dan produktivitas naik, quiet quitting dorong turnover naik dan produktivitas turun.
Perbedaan paling mendasar justru ada di fokus perusahaan. Perusahaan perlu niat serius membangun flourishing berinvestasi di wellbeing dan pengembangan karyawan sejak awal, bukan cuma reaktif cegah resign setelah karyawan telanjur mundur diam-diam.
Elemen Job Flourishing di Tempat Kerja
Merujuk kerangka PERMA dan tinjauan sistematis job flourishing dari A’yuninnisa et al. (2024) di jurnal Current Psychology, beberapa elemen kunci pembentuk flourishing karyawan di antaranya:
- Makna kerja (meaning): karyawan merasa pekerjaannya berdampak nyata, baik untuk perusahaan, klien, maupun lingkungan sekitar.
- Keterlibatan (engagement): pekerjaan sesuai potensi dan minat karyawan, bukan sekadar rutinitas administratif.
- Hubungan sosial (relationship): interaksi sehat dengan atasan dan rekan kerja, minim konflik interpersonal berkepanjangan.
- Pencapaian (accomplishment): ada ruang berkembang, dapat pengakuan, serta rayakan progres kerja.
- Emosi positif (positive emotion): karyawan merasa optimis, tenang, dan bersemangat jalani rutinitas kerja sehari-hari.
Baca Juga: Dari FOMO ke JOMO: Cara Menemukan Ketenangan Kerja di Era Serba Cepat
Generasi Z dan Job Flourishing Menekan Quiet Quitting
Riset dari Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas jadi bukti relevan soal keterkaitan dua konsep ini di konteks Indonesia. Studi berjudul “Emotional Well-Being Matters Most: How Job Flourishing Reduces Quiet Quitting Among Generation Z In Indonesia” memakai pendekatan Social Exchange Theory, mengumpulkan data dari 166 responden generasi Z lewat survei daring dengan teknik purposive sampling.
Temuannya konsisten yaitu makin tinggi job flourishing generasi Z, makin rendah kecenderungan quiet quitting mereka. Studi ini juga mendapati emotional well-being sebagai dimensi paling kuat pengaruhnya, dibanding dimensi job flourishing lain seperti engagement atau pencapaian, dalam menekan kecenderungan quiet quitting.
Temuan ini masuk akal ditelaah dari karakter generasi Z di tempat kerja. Generasi ini tumbuh besar dengan paparan isu kesehatan mental terbuka, ekspektasi tinggi soal transparansi perusahaan, sekaligus prioritas kuat pada work life balance. Ketika kondisi emosional mereka di kantor terabaikan, respons paling umum bukan resign terang-terangan, melainkan mundur diam-diam lewat quiet quitting.
Cara Perusahaan Membangun Job Flourishing
Membangun job flourishing bukan proyek satu arah dari tim HR doang. Perusahaan perlu sediakan sistem konkret, bukan sekadar slogan budaya kerja positif. Beberapa langkah praktis:
- Sediakan akses pengembangan skill berkelanjutan, bukan pelatihan formalitas tahunan.
- Bangun budaya apresiasi konsisten, bukan cuma saat evaluasi tahunan.
- Pantau kondisi wellbeing karyawan berkala, bukan tunggu surat pengunduran diri.
- Beri ruang karyawan untuk menyampaikan masukan soal beban kerja dan ekspektasi.
- Selaraskan tujuan individu karyawan dengan tujuan tim atau perusahaan.
Lima poin ini persis area teknologi HR modern berperan penting, terutama buat perusahaan dengan jumlah karyawan besar dan lintas divisi.
Baca Juga: Mengenal Lima Elemen Kunci Total Rewards : Perusahaan Maju, Karyawan Sejahtera
Solusi Payuung untuk Dukung Job Flourishing Karyawan
Payuung hadir sebagai platform kesejahteraan karyawan terintegrasi, dirancang menjawab pilar job flourishing sekaligus yaitu pengembangan diri dan apresiasi reward karyawan.

Fitur solusi pengembangan karyawan ini membantu perusahaan rancang perencanaan pelatihan terstruktur, sekaligus sediakan akses ke ratusan event pengembangan diri dalam satu platform terintegrasi. Karyawan tak perlu cari peluang belajar sendiri-sendiri, semua tersedia terpusat, relevan dengan kebutuhan skill tiap divisi.
Apresiasi reward karyawan secara konsisten jadi kunci retensi talenta, terutama buat generasi Z paling sensitif soal validasi kerja. Fitur ini membantu perusahaan bangun mekanisme apresiasi terstruktur, dari pengakuan pencapaian kecil harian sampai reward atas kontribusi besar.
Ciptakanlah flourishing di tempat kerjamu tanpa pusing bersama Payuung! Kabar baiknya, Payuung terafiliasi dengan Gadjian. Kamu juga bisa memanfaatkan Aplikasi HRIS Gadjian dengan fitur performance review untuk membantu penilaian kinerja karyawan secara adil dan transparan. Ini berguna banget sebagai dasar decision making untuk perpanjangan kontrak atau perubahan status karyawan menjadi PKWTT.
Referensi
A’yuninnisa, R. N., Carminati, L., & Wilderom, C. P. M. (2024). Job flourishing research: A systematic literature review. Current Psychology, 43(5), 4482-4504. https://psycnet.apa.org/doi/10.1007/s12144-023-04618-w
Narendra, Z. A., & A’yuninnisa, R. N. (2025). Emotional well-being matters most: how job flourishing reduces quiet quitting among generation Z in Indonesia. Jurnal Ilmu Perilaku, 9(1), 1-19. https://jip.fk.unand.ac.id/index.php/jip/article/view/659
Riggio, R. E. (2025, 1 Oktober). Flourishing at work: what is it? How do you get it? Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/cutting-edge-leadership/202510/flourishing-at-work-what-is-it-how-do-you-get-it
Related posts
Cara Menghadapi Atasan NPD
Subscribe Now
* You will receive the latest news and updates on your favorite news



