Perkembangan di dunia media sosial yang serba cepat dan instan seringkali membuat kita merasa takut ketinggalan trend yang sedang hype. Ditambah lagi grup chat kantor yang selalu ramai dan rasa was-was setiap kali offline sejenak dari e-mail. Apakah ini terdengar familiar? Jika ya, kamu mungkin sedang mengalami FOMO, sebuah fenomena psikologis yang kini masuk ke ruang kerja sehari-hari. Kabar baiknya, kamu bisa bergeser dari FOMO menuju JOMO, yaitu sebuah pendekatan yang justru bisa membuat lebih tenang sekaligus produktif.
Pengertian FOMO

FOMO (Fear of Missing Out) yaitu perasaan tidak nyaman karena khawatir orang lain sedang mengalami hal menyenangkan atau mendapatkan peluang berharga tanpa kehadiran kita. Istilah ini pertama kali populer dalam konteks media sosial, tetapi maknanya kini meluas ke berbagai aspek kehidupan, termasuk pekerjaan.
Secara psikologis, FOMO dapat ditandai dengan kecemasan berlebihan, yaitu rasa gelisah ketika tidak mengikuti tren, acara, atau kegiatan tertentu. Di lingkungan kerja, gejala ini biasanya muncul dalam bentuk lain seperti takut ketinggalan informasi penting di grup chat, merasa harus selalu online meski sudah lewat jam kerja, atau cemas ketika tidak diundang ke sebuah rapat yang padahal belum tentu relevan dengan tugasnya.
Apabila dibiarkan, kecemasan akibat FOMO bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan umum atau depresi ringan. Dalam konteks kerja, ini bisa bermuara pada kecemasan kerja, penurunan kualitas tidur, hingga sulit memisahkan waktu kerja dan waktu istirahat.
Baca juga: Tips Dompet Tetap Aman untuk Nonton Konser Impian
Ciri-Ciri FOMO di Tempat Kerja
Beberapa tanda FOMO yang sering muncul di lingkungan profesional biasanya:
- Selalu memeriksa e-mail atau pesan kerja bahkan di akhir pekan atau saat cuti.
- Merasa bersalah ketika mengambil waktu istirahat atau menolak lembur.
- Cemas berlebihan saat tertinggal rapat atau diskusi informal antar tim.
- Terus-menerus membandingkan progres karier diri sendiri dengan rekan seangkatan.
- Sulit fokus pada satu tugas karena pikiran terus melompat ke notifikasi baru.
Pengertian JOMO

Jika FOMO membuat seseorang terus-menerus mengejar validasi dan informasi, JOMO hadir sebagai penawarnya. JOMO dianggap sebagai konsep yang mengutamakan kebahagiaan dan ketenangan batin dengan memilih tidak terlibat dalam kegiatan tertentu demi kepuasan diri.
JOMO (Joy of Missing Out) adalah perasaan puas karena secara sengaja memilih untuk fokus pada hal berarti bagi diri sendiri. Berbeda dengan FOMO yang digerakkan oleh rasa takut, JOMO digerakkan oleh kesadaran dan pilihan yang sadar, bukan menghindar karena cemas, melainkan memilih dengan tenang apa yang benar-benar layak mendapat perhatian.
JOMO mengacu pada bagaimana seseorang mengambil momentum secara sadar untuk melepaskan diri dari dunia digital dan mengalami hidup tanpa selalu bergantung padanya. Di konteks kerja, ini bisa berarti berani menonaktifkan notifikasi setelah jam kantor, tidak merasa wajib membalas pesan kerja tengah malam, atau memilih untuk tidak hadir dalam rapat yang sebenarnya tidak relevan dengan perannya.
Baca juga: Info HR: Contoh Kasus Karyawan Terjebak Pinjaman Online
FOMO Semakin Umum di Dunia Kerja Modern
Beberapa faktor membuat FOMO semakin subur di lingkungan kerja masa kini biasanya:
1. Budaya kerja selalu terhubung (always-on culture).
Aplikasi komunikasi seperti Slack, Microsoft Teams, Google Chat, dan WhatsApp membuat batas antara jam kerja dan waktu pribadi semakin kabur. Banyak karyawan merasa harus responsif kapan pun demi terlihat “gesit” di mata atasan.
2. Budaya WFH dan Hybrid.
Fleksibilitas WFH justru bisa memperbesar FOMO. Tanpa kehadiran fisik di kantor, sebagian orang merasa perlu membuktikan diri lebih keras dengan online lebih lama, khawatir dianggap kurang berkontribusi dibanding rekan yang terlihat aktif di kanal digital.
3. Perbandingan sosial di dunia profesional.
LinkedIn dan platform serupa menciptakan panggung baru untuk membandingkan pencapaian karier seperti promosi, gaji, hingga proyek besar yang memperkuat rasa cemas ketinggalan.
4. Tekanan performa dan ketidakpastian ekonomi.
Di tengah kompetisi kerja yang ketat, banyak profesional merasa harus terus bergerak cepat agar tidak “tertinggal” dari perkembangan industri, teknologi, atau peluang karier.
FOMO Menuju JOMO di Tempat Kerja

Transisi dari FOMO menuju JOMO bukan proses instan, tetapi kamu bisa melatihnya secara bertahap melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang konsisten.
1. Latih Mindfulness Saat Bekerja
Latihan mindfulness membantu kamu fokus pada apa yang sedang dilakukan saat ini dan menikmati momen sekarang tanpa terus memikirkan apa yang dilakukan orang lain. Ketika mengerjakan satu tugas, coba fokus sepenuhnya pada tugas tersebut tanpa membuka tab atau aplikasi lain. Teknik sederhana seperti menarik napas dalam sebelum memulai pekerjaan bisa membantu menurunkan kecemasan akan “ketinggalan sesuatu”.
2. Kurasi Sumber Informasi dan Notifikasi
Melakukan kurasi pada daftar yang diikuti di media sosial dan lebih memilih akun yang memberi inspirasi positif dan edukasi dapat membantu mengurangi rasa iri dan cemas. Terapkan prinsip serupa di tempat kerja, matikan notifikasi yang tidak esensial, keluar dari grup chat yang tidak lagi relevan, dan tetapkan waktu khusus untuk memeriksa e-mail, bukan sepanjang hari tanpa henti.
3. Tetapkan Batasan Waktu Kerja yang Jelas
Menetapkan batasan di berbagai aspek kehidupan membantu seseorang menjadi lebih selektif dalam mengatur waktu. Tentukan jam mulai dan berakhirnya waktu kerja, lalu komunikasikan batasan tersebut kepada tim. Menolak membalas pesan kerja pukul 10 malam bukan tanda tidak profesional, justru tanda kamu mengelola energi dengan bijak agar tetap prima saat jam kerja berlangsung.
4. Fokus pada Rasa Syukur dan Pencapaian Diri
Menulis jurnal harian tentang hal-hal kecil yang disyukuri membantu otak untuk lebih menghargai apa yang sudah dimiliki. Di konteks kerja, ini bisa berupa mencatat pencapaian kecil harian, menyelesaikan satu tugas dengan baik, mendapat masukan positif dari rekan kerja, atau berhasil menjaga fokus tanpa distraksi. Kebiasaan ini secara perlahan menggeser fokus dari “apa yang belum saya capai dibanding orang lain” menjadi “apa yang sudah saya lakukan dengan baik hari ini”.
5. Berani Berkata “Tidak” pada Hal yang Tidak Esensial
Tidak semua rapat perlu dihadiri, tidak semua tugas tambahan perlu diambil, dan tidak semua obrolan kantor perlu diikuti secara real-time. Belajar memilah mana yang benar-benar penting bagi peran dan tujuan kariermu adalah inti dari filosofi JOMO, yaitu memilih dengan sadar, bukan menghindar karena takut.
6. Jaga Keseimbangan Finansial dan Mental Secara Bersamaan
Ketenangan kerja tidak hanya soal mengelola waktu dan notifikasi, tetapi juga soal rasa aman secara finansial dan mental. Banyak FOMO di tempat kerja sebenarnya berakar dari kekhawatiran akan masa depan. Hal itu tercermin dari takut tertinggal dalam tabungan, dana darurat, atau perlindungan kesehatan dibanding rekan sebaya. Ketika kondisi finansial dan kesejahteraan mental terkelola dengan baik, seseorang cenderung lebih mudah merasa cukup dan tenang, alih-alih terus mengejar validasi eksternal.
Baca juga: Tips Mengatur Keuangan Gen Z yang Baru Mulai Bekerja
Mulai Langkah JOMO-mu Bersama Payuung!
Salah satu fondasi penting untuk benar-benar merasakan JOMO di tempat kerja adalah rasa aman finansial dan kesejahteraan yang terkelola dengan baik. Ketika urusan finansial, kesehatan, hingga pengembangan karyawan sudah tertata, pikiran jadi lebih ringan untuk melepaskan FOMO dan fokus pada apa yang benar-benar penting.
Payuung hadir sebagai platform yang membantu individu maupun karyawan mengelola kesejahteraan secara menyeluruh dalam satu aplikasi yang mudah diakses. Adanya pondasi yang lebih stabil, kamu bisa lebih leluasa menerapkan gaya hidup JOMO tanpa dibayangi kecemasan akan hal-hal yang belum pasti. Bagi kamu yang sudah pakai Gadjian atau Hadirr, bisa langsung Sign-Up, ya, tanpa daftar akun lagi!

Yuk, mulai kelola kesejahteraan finansial dan mentalmu sekarang bersama Payuung dan temukan ketenanganmu sendiri di tengah dunia kerja yang serba cepat!
Referensi:
Kouremetis, D. (2026, 20 Juli). At This Age, “No” Is a Complete Sentence. https://www.psychologytoday.com/us/blog/raging-with-grace/202607/at-this-age-no-is-a-complete-sentence
Nasserzadeh, S. (2024, 1 Juli). From FOMO to JOMO: The Joy of Missing Out. Diakses dari: https://www.psychologytoday.com/us/blog/love-by-design/202406/from-fomo-to-jomo-the-joy-of-missing-out
Related posts
Subscribe Now
* You will receive the latest news and updates on your favorite news