Hari pertama kerja rasanya campur aduk. Ada semangat, ada juga rasa waswas soal performa ke depan. Buat karyawan baru, perasaan ini biasanya makin kuat begitu sadar bahwa tiga bulan ke depan bakal jadi masa penilaian. Kecemasan masa probation itu bukan hal aneh. Hampir setiap orang pernah merasakannya, entah dalam bentuk susah tidur menjelang hari kerja, terus-menerus mengecek pesan dari atasan, atau merasa harus tampil sempurna di setiap tugas kecil sekalipun.

Soal kenapa fase ini terasa berat, dan cara menghadapinya tanpa bikin diri kelelahan sendiri, coba simak penjelasan berikut.

Dasar Hukum Masa Probation

Dasar Hukum Masa Probation

Sebelum masuk ke sisi mental, ada baiknya kamu pahami dulu batasan hukum masa probation supaya kecemasan tidak diperparah oleh ketidaktahuan. Berdasarkan Pasal 60 UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, ketentuannya sebagai berikut.

Masa percobaan hanya berlaku untuk karyawan dengan status Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT) dan tidak boleh melebihi 3 bulan.

Selama probation, perusahaan dilarang membayar upah di bawah upah minimum yang berlaku di wilayah kerja.

Berdasarkan Pasal 58 UU Ketenagakerjaan, status Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) tidak dapat disyaratkan masa percobaan. Kalau tetap dicantumkan, ketentuan tersebut batal demi hukum.

Memahami batasan ini membantu karyawan baru membedakan tekanan kerja yang wajar dengan praktik yang sebenarnya melanggar aturan, sehingga kecemasan bisa diarahkan ke hal yang memang perlu diperhatikan.

Baca juga: Dari FOMO ke JOMO: Cara Menemukan Ketenangan Kerja di Era Serba Cepat

Kenapa Masa Probation Terasa Begitu Menegangkan?

Kenapa Masa Probation Terasa Begitu Menegangkan?

Probation punya karakter berbeda dibanding periode kerja lainnya. Status karyawan belum permanen, sementara penilaian jalan terus setiap hari. Kombinasi dua hal ini secara psikologis memang lebih memicu tekanan dibanding rutinitas kerja biasa.

Ada beberapa faktor spesifik yang bikin fase ini terasa berat.

1. Ekspektasi tinggi di waktu singkat

Karyawan baru sering merasa harus segera menguasai jobdesk, budaya kantor, dan ritme kerja tim dalam hitungan minggu, padahal proses belajar itu wajar berjalan bertahap.

2. Penilaian berkelanjutan tanpa jeda

Setiap laporan, setiap rapat, setiap interaksi dengan atasan terasa seperti ujian kecil. Kondisi ini di dunia psikologi kerja dikenal sebagai evaluation apprehension, yaitu kecemasan karena merasa terus dinilai orang lain.

3. Ketidakpastian status kerja

Berbeda dengan karyawan tetap, status probation membuat masa depan kerja terasa belum aman. Perasaan tidak stabil ini gampang berubah jadi overthinking soal hal-hal kecil.

4. Tekanan membandingkan diri dengan rekan lama. 

Karyawan baru cenderung membandingkan kecepatan kerjanya dengan rekan yang sudah lama di posisi itu, padahal jam terbang keduanya jelas beda jauh.

Riset dari Sriwiyati et al. (2023) mengenai kesehatan kerja memang menunjukkan bahwa kualitas orientasi kerja berhubungan erat dengan kemampuan adaptasi karyawan baru. Semakin baik proses pengenalan tugas dan lingkungan kerja di awal, semakin rendah pula tingkat stres yang dialami karyawan dalam beradaptasi. Tekanan yang dirasakan karyawan probation biasanya berupa karakter pribadinya serta seberapa siap perusahaan membantu proses adaptasi itu sendiri.

Baca juga: Fenomena Quite Cracking: Diam-Diam Lelah, Tapi Tetap Kerja Seperti Biasa

Stres Karyawan Baru? Wajar, tapi Perlu Diperhatikan

Stres Karyawan Baru? Wajar, tapi Perlu Diperhatikan

Stres ringan di awal kerja termasuk respons adaptasi yang normal. Tubuh dan pikiran memang butuh waktu menyesuaikan diri dengan rutinitas, orang, dan tanggung jawab baru.

Yang perlu diwaspadai adalah kalau stres itu berubah jadi pola yang menetap. Beberapa tanda yang patut diperhatikan:

  • Susah tidur berkepanjangan menjelang hari kerja, bukan cuma di minggu pertama.
  • Sulit fokus mengerjakan tugas sederhana karena pikiran terus memutar skenario terburuk.
  • Menghindari interaksi dengan atasan atau rekan kerja karena takut dinilai buruk.
  • Muncul keluhan fisik berulang seperti sakit kepala atau nyeri perut tanpa sebab medis jelas.

Kalau kondisi seperti ini berlangsung lebih dari beberapa minggu, ada baiknya bicara dengan orang yang dipercaya atau tenaga profesional, bukan dipendam sendiri, ya!

Cara Jaga Mental Saat Probation

Beberapa langkah berikut cukup efektif membantu karyawan baru menjaga kestabilan mental selama masa percobaan.

  1. Minta feedback secara proaktif. Jangan menunggu evaluasi resmi. Tanyakan langsung ke atasan soal progres kerja. Kejelasan arah biasanya lebih menenangkan dibanding menebak-nebak sendiri.
  2. Susun target realistis per minggu. Pecah target besar jadi langkah kecil yang terukur. Fokus pada satu hal yang dikuasai lebih dulu, bukan semua sekaligus.
  3. Batasi jam kerja setelah pulang kantor. Karyawan baru sering merasa harus selalu siap merespons pesan kerja kapan saja. Padahal waktu istirahat yang cukup justru bikin performa besok lebih baik.
  4. Bangun koneksi dengan satu atau dua rekan kerja. Punya orang yang bisa diajak diskusi soal budaya kantor membantu mengurangi rasa terisolasi di lingkungan baru.
  5. Catat pencapaian kecil setiap minggu. Progres yang tercatat membantu melihat perkembangan diri secara objektif, bukan cuma berdasarkan perasaan cemas sesaat.

Baca juga: Ubah Inner Critic Jadi Inner Coach dalam Bekerja

Peran Perusahaan Menjaga Kesehatan Mental Karyawan Baru

Menjaga mental tetap stabil selama probation bukan cuma tanggung jawab karyawan itu sendiri. Perusahaan yang serius menjaga retensi biasanya juga menyiapkan sistem pendukung sejak hari pertama karyawan bergabung. Di sinilah peran platform kesejahteraan karyawan seperti Payuung jadi relevan. Ada tiga fitur utama yang bisa membantu perusahaan mendampingi karyawan baru melewati masa probation dengan lebih baik.

Fitur Apresiasi Reward Karyawan

Fitur apresiasi reward karyawan ini membantu perusahaan membangun budaya penghargaan yang konsisten, bukan cuma di momen tertentu. Karyawan baru yang mendapat apresiasi atas progresnya, sekecil apapun itu, cenderung lebih percaya diri menjalani proses adaptasi dan lebih termotivasi bertahan di perusahaan.

Konseling Karyawan

Solusi konseling karyawan pun akan segera hadir. Fitur ini dirancang untuk memberi akses dukungan psikologis bagi karyawan yang membutuhkan ruang bicara soal tekanan kerja, termasuk kecemasan kerja selama masa probation. Tujuannya sederhana, membantu karyawan tetap produktif dan fokus bekerja tanpa harus menanggung beban mental sendirian.

Kombinasi fitur ini menunjukkan bahwa dukungan terhadap karyawan baru bisa dimulai jauh sebelum masalah kesehatan mental berkembang jadi serius. Perusahaan yang punya sistem seperti ini biasanya juga lebih berhasil menjaga karyawan barunya bertahan lewat masa probation dengan baik.

Yuk, mulai bangun lingkungan kerja yang membuat karyawan merasa nyaman. Kita bertumbuh bersama Payuung dan temukan solusi kesejahteraan karyawan yang tepat untuk tim kamu. Bagi kamu yang sudah pakai Gadjian atau Hadirr, bisa langsung Login, ya, tanpa daftar akun lagi, yapz!

Kabar baiknya, kalau kamu adalah seorang karyawan yang sedang dalam masa probation, kamu bisa akses Payuung Pribadi dengan unduh aplikasinya di Google Play Store atau App Store. Bangun work life balance yang kamu impikan hanya di aplikasi Payuung Pribadi untuk hidup lebih produktif, sejahtera dan bahagia~

Fitur Payuung Pribadi
Daftar Presentasi Payuung

Referensi

Sriwiyati, L., Dharma, Y. P. T., Nursanti, A. L. D., Hartono, M., & Santoso, B. (2023). Hubungan pelaksanaan orientasi kerja dengan kemampuan adaptasi karyawan baru. KOSALA: Jurnal Ilmu Kesehatan11(1), 65-74. https://doi.org/10.37831/kjik.v11i1.271

Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Pasal 58 dan Pasal 60. JDIH Kementerian Ketenagakerjaan RI. https://jdih.kemnaker.go.id/asset/data_puu/peraturan_file_13.pdf