Pernah merasa tetap masuk kerja, menyelesaikan tugas, membalas e-mail tepat waktu, tapi di dalam hati rasanya sudah “kosong”? Kamu mungkin sedang mengalami quiet cracking, tren psikologi kerja yang belakangan ramai dibicarakan setelah “quiet quitting” dan “quiet firing“. Quiet quitting diidentikkan dengan sengaja bekerja seadanya. Quiet cracking justru terjadi pada karyawan yang kelihatannya baik-baik saja. Namun, karyawan tersebut tetap produktif, hadir rapat, tapi diam-diam sedang “retak” secara mental karena tekanan yang menumpuk.
Apa Itu Quiet Cracking?

Istilah quiet cracking dipopulerkan oleh riset dari platform pelatihan korporat TalentLMS pada 2025. Berdasarkan riset tersebut, quiet cracking didefinisikan sebagai perasaan tidak bahagia di tempat kerja yang bersifat terus-menerus. Perasaan tersebut berujung pada penurunan performa dan meningkatnya keinginan untuk resign.
Hal yang membuat fenomena ini berbeda adalah sifatnya yang halus dan sulit terdeteksi. Seperti dijelaskan oleh Dahl Consulting, quiet cracking merupakan penurunan kepuasan kerja dari dalam diri, berupa proses disengagement yang berlangsung diam-diam dan sering tidak disadari. Karyawan perlahan retak karena tekanan tanggung jawab pekerjaan yang terus bertambah.
Secara sederhana, quiet cracking adalah kondisi ketika seseorang tetap menjalankan pekerjaannya secara normal di permukaan, tapi secara emosional dan mental sedang berjuang keras untuk bertahan.
Baca juga: Mengurangi Turnover Karyawan dengan Pinjaman Karyawan
Bedanya dengan Quiet Quitting dan Burnout
Banyak orang menyamakan quiet cracking dengan quiet quitting atau burnout biasa. Padahal ketiganya punya karakteristik yang berbeda.
- Quiet quitting adalah pilihan sadar. Karyawan sengaja membatasi diri hanya mengerjakan sesuai deskripsi kerja, tanpa usaha ekstra, sebagai bentuk penetapan batas (boundary).
- Quiet cracking bukan pilihan, melainkan keruntuhan yang tidak disengaja. Jika quiet quitting melibatkan penetapan batas yang disengaja, quiet cracking adalah erosi yang tidak disengaja, keretakan perlahan pada pondasi psikologis karyawan di tempat kerja.
- Burnout biasanya sudah tampak jelas lewat kelelahan fisik dan emosional yang ekstrem. Quiet cracking sering kali berada di fase lebih awal dan lebih tersembunyi. Quiet cracking berada di antara burnout yang dialami sebagian pekerja ambisius, tapi kelebihan beban. Sementara itu, quiet quitter yang secara aktif “melepas diri” dari pekerjaan yang sudah tidak mereka inginkan lagi.
Dengan kata lain, quiet cracking adalah fase peralihan yang berbahaya. Apabila dibiarkan, karyawan bisa berkembang menjadi burnout penuh atau membuatnya bertahan dalam kondisi tidak sehat karena merasa tidak punya pilihan lain.
Seberapa Luas Quiet Cracking Ini Terjadi?

Data menunjukkan bahwa quiet cracking bukan sekadar istilah viral, tapi realitas yang dialami banyak pekerja. Survei TalentLMS (2025) terhadap 1.000 karyawan di Amerika Serikat menemukan bahwa 54% responden mengaku pernah mengalami tingkat quiet cracking tertentu. Bahkan, satu dari lima karyawan mengatakan mereka terjebak dalam kondisi ketidakbahagiaan kerja yang terus-menerus. Sementara itu, 20% mengalaminya secara sering atau bahkan konstan, dan 34% lainnya mengalaminya sesekali.
Baca juga: Sering Mengalami Kecemasan Kerja? Lakukan Mindful Grounding (Teknik 5-4-3-2-1) Segera!
Kenapa Fenomena Ini Muncul Sekarang?
Beberapa faktor dianggap menjadi pemicu utama munculnya gelombang quiet cracking, terutama di era pascapandemi:
- Beban kerja yang terus meningkat. Banyak perusahaan melakukan efisiensi tim, sehingga tanggung jawab yang tersisa dibebankan ke lebih sedikit orang. Kondisi ini sering dipicu oleh faktor seperti beban kerja yang meningkat, adopsi AI yang cepat, atau ekspektasi kerja yang tidak jelas.
- Pasar kerja yang ketat dan ekonomi tidak pasti. Banyak karyawan memilih bertahan di pekerjaan yang membuat mereka tidak bahagia karena takut sulit mendapatkan pekerjaan baru. Kombinasi pasar kerja yang ketat dan ekonomi yang tidak pasti membuat banyak pekerja bertahan dalam situasi yang membuat mereka tidak bahagia.
- Kekhawatiran soal masa depan karier dan otomatisasi AI. Karyawan kadang merasa terjebak oleh faktor-faktor seperti pasar kerja yang ketat, ekonomi yang tidak pasti, dan minimnya peluang pengembangan karier, sehingga mereka khawatir keterampilannya menjadi usang dan menghadapi ancaman baru seperti AI.
- Kurangnya pelatihan dan pengembangan diri. Riset yang sama mengungkap bahwa karyawan yang tidak mendapatkan pelatihan 140% lebih mungkin merasa tidak aman secara pekerjaan.
- Trauma finansial dan tekanan ekonomi pribadi. Quiet cracking pada banyak kasus sebenarnya adalah strategi bertahan hidup, yakni tubuh menyerap tekanan dari ketidakpastian ekonomi sementara pikiran terus berhitung risiko untuk keluar dari pekerjaan.
Tanda-Tanda Seseorang Mengalami Quiet Cracking

Karena sifatnya yang tersembunyi, tanda-tanda quiet cracking sering luput dari perhatian atasan maupun rekan kerja. Beberapa gejala yang umum ditunjukkan menurut Schloemer et al. (2025) antara lain:
- Kelelahan yang terus berulang dan pikiran yang sulit berhenti memikirkan konflik atau tekanan di kantor, bahkan saat sudah di rumah.
- Penarikan diri secara emosional, misalnya tetap tersenyum dan ramah di kantor, tapi menangis diam-diam di WC atau dalam perjalanan pulang.
- Perubahan pola makan atau kebiasaan sebagai bentuk pelampiasan stres, seperti makan berlebihan atau kebiasaan tidak sehat lainnya.
- Penurunan performa yang bukan karena malas, melainkan karena tubuh dan pikiran berada dalam mode “siaga” yang terus-menerus. Sabree dalam tulisannya di Forbes merangkum pola ini sebagai bagian dari strategi coping terhadap trauma finansial di tempat kerja. Hal ini dipicu dari kelelahan dan hiperfokus akibat terus memikirkan konflik kerja, penarikan diri emosional, coping yang tidak sehat, hingga penurunan performa yang bukan berasal dari kemalasan melainkan kondisi fight-or-flight yang berkepanjangan.
- Tetap menjalankan tugas utama, tapi kehilangan antusiasme, inisiatif, dan tampak lebih tertutup dari biasanya. Karyawan mungkin tetap memenuhi tugas dasarnya, tetapi kehilangan antusiasme atau inisiatif yang dulu mereka miliki, serta tampak menarik diri dan secara emosional lebih tertutup.
- Berhenti bertanya tentang jalur karier, promosi, atau peluang pengembangan karyawan.
- Tingkat ketidakhadiran yang meningkat atau pola pengambilan cuti di sekitar periode tekanan tinggi.
Baca juga: Apresiasi! Cara Menjaga Loyalitas Karyawan pada Perusahaan
Dampaknya Bagi Karyawan dan Perusahaan

Bagi karyawan, quiet cracking yang dibiarkan berlarut-larut berisiko berkembang menjadi burnout serius, gangguan kecemasan kerja, hingga masalah kesehatan fisik akibat stres kronis. Secara relasi, kondisi ini juga bisa membuat seseorang menjadi lebih menarik diri dari lingkungan sosial, baik di kantor maupun di rumah.
Bagi perusahaan, dampaknya terasa pada kualitas kerja dan keberlangsungan bisnis. Fenomena ini dapat menyebabkan proyek terhambat, penurunan produktivitas, dan pada akhirnya tingkat turnover karyawan yang lebih tinggi. Ironisnya, karyawan yang mengalami quiet cracking sering kali masih terlihat “aman” di atas kertas, sehingga masalah baru disadari setelah performa tim menurun signifikan atau setelah karyawan terbaik justru resign.
Jaga Karyawanmu Bersama Payuung!
Mendeteksi dan mencegah quiet cracking membutuhkan lebih dari sekadar niat baik, tetapi juga sistem kesejahteraan yang benar-benar terintegrasi dalam keseharian karyawan. Payuung hadir sebagai platform kesejahteraan karyawan yang holistik, membantu perusahaan mengelola benefit finansial dan wellness dalam satu ekosistem, mulai dari dukungan kesehatan mental, pelatihan pengembangan karyawan, hingga apresiasi karyawan yang membangun budaya kerja lebih sehat dan suportif.

Adapun untuk mengetahui atau mengevaluasi tingkat ketidakhadiran karyawan yang meningkat, perusahaanmu juga bisa mengkombinasikannya dengan penggunaan aplikasi manajemen kehadiran karyawan seperti Hadirr. Ini tentunya akan membantu perusahaanmu memonitor kehadiran, overtime atau lembur, dan shift kerja karyawan di berbagai lokasi secara hemat dan akurat.
Yuk, mulai bangun lingkungan kerja yang membuat karyawan merasa didengar, bukan hanya dituntut. Kunjungi Payuung dan temukan solusi kesejahteraan karyawan yang tepat untuk tim kamu. Bagi kamu yang sudah pakai Gadjian atau Hadirr, bisa langsung Sign-Up, ya, tanpa daftar akun lagi!
Referensi
Dahl Consulting. (2025, 29 April). Quiet cracking: the emerging workplace trend employers need to understand. https://www.dahlconsulting.com/2025/04/29/quiet-cracking-the-emerging-workplace-trend-employers-need-to-understand/
Sabree, R. (2025, 19 Agustus). Quiet cracking is the latest response to workplace financial trauma. Forbes. https://www.forbes.com/sites/rahkimsabree/2025/08/19/how-quiet-cracking-is-the-result-of-workplace-financial-trauma
Schloemer, S., Warman, Z., & Batemen, L. (2026, 23 April). Quiet cracking: what causes employees to disengage. Perceptyx. https://blog.perceptyx.com/employees-are-quiet-cracking-what-the-data-is-trying-to-tell-you
TalentLMS. (2025). Quiet cracking: a hidden workplace crisis. https://www.talentlms.com/research/quiet-cracking-workplace-survey
Fenomena Quite Cracking: Diam-Diam Lelah, Tapi Tetap Kerja Seperti Biasa
Related posts
Subscribe Now
* You will receive the latest news and updates on your favorite news
