Fenomena toxic positivity semakin ramai dibahas era ini. Alih-alih membuat karyawan lebih tangguh, tekanan untuk selalu tampil positif justru ternyata dapat menekan performa kerja itu sendiri. Coba, deh, apa kamu pernah mengalami hari yang berat di kantor, lalu ketika bercerita ke rekan kerja atau atasan, jawaban yang didapat hanya, “Santai aja, selalu ada hikmahnya, kok” atau “Jangan negatif, dong, semangat terus, ya.”? Kalimat semacam itu terdengar mendukung, tapi bila terus-menerus dipakai untuk membungkam keluhan yang dirasakan, itulah yang bisa disebut sebagai toxic positivity.

Apa Itu Toxic Positivity di Tempat Kerja?

Apa Itu Toxic Positivity di Tempat Kerja?

Toxic positivity dapat diartikan sebagai respons yang gagal mengakui pengalaman emosi negatif, baik dengan meremehkan atau menyangkal pengalaman tersebut. Selain itu, dapat juga berupa memaksakan sudut pandang positif yang tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Meskipun konsep toxic positivity ramai dibahas di bidang kesehatan dan linguistik, kajian dalam ilmu manajemen sendiri sebenarnya baru berkembang belakangan meskipun tempat kerja adalah salah satu arena utama fenomena ini terjadi.

Penting dipahami, toxic positivity berbeda dari sekadar sikap optimis yang sehat. Optimisme yang sehat mengakui adanya masalah sembari tetap mencari solusi. Toxic positivity justru menolak keberadaan masalah itu sendiri. Emosi negatif dianggap sebagai “ancaman budaya” yang harus segera ditutupi dengan jargon semangat, bukan sebagai informasi berharga yang perlu ditindaklanjuti.

Toxic positivity dapat menekan perasaan emosional, meningkatkan stres, dan menciptakan ekspektasi performa yang tidak realistis. Hal tersebut tentu dapat memengaruhi kepuasan kerja dan dinamika perusahaan secara keseluruhan.

Baca juga: Sering Mengalami Kecemasan Kerja? Lakukan Mindful Grounding (Teknik 5-4-3-2-1) Segera!

“Semangat Terus!” Bisa Jadi Bumerang bagi Performa

Semangat Terus! Bisa Jadi Bumerang bagi Performa

1. Memaksa Karyawan Melakukan “Surface Acting

Surface acting terjadi ketika seseorang berpura-pura menunjukkan emosi tertentu padahal yang dirasakan sangat berbeda. Toxic positivity memaksa karyawan melakukan surface acting setiap hari, seperti menutupi kelelahan, frustrasi, atau kekhawatiran dengan topeng “semangat” demi menyesuaikan diri dengan budaya “selalu positif” di kantor.

2. Membuka Jalan Menuju Burnout dan Turunnya Kepuasan Kerja

Hubungan antara burnout dan kepuasan kerja sudah berulang kali dibuktikan secara empiris. Penelitian yang dipublikasikan oleh Bal & Kökalan (2021) di Frontiers in Psychology pada 326 responden dari sektor perbankan, pendidikan, dan pariwisata menemukan hubungan negatif yang signifikan antara tingkat burnout karyawan dan kepuasan kerja.

Ketika sumber energi emosional karyawan terus-menerus terkuras, salah satunya karena dipaksa menekan emosi negatif demi menjaga citra “positif”, maka gejala burnout seperti kelelahan emosional, sikap sinis, dan rendahnya rasa pencapaian pribadi akan lebih mudah muncul. Kepuasan kerja dan indikasi stres kerja juga dapat menjadi prediktor signifikan terjadinya burnout, memperkuat gambaran bahwa lingkungan kerja yang tidak memberi ruang bagi emosi jujur berisiko tinggi menurunkan kesejahteraan sekaligus produktivitas.

3. Mengikis Psychological Safety dan Membungkam Suara Karyawan

Lingkungan kerja perlu untuk mengambil risiko interpersonal, termasuk berbicara jujur, mengajukan pertanyaan, mengakui kesalahan, atau menyampaikan kekhawatiran. Psychological safety bukan berarti “afeksi yang serba positif tanpa henti”, justru sebaliknya. Budaya yang memaksakan afeksi positif terus-menerus dapat menutup ruang bagi feedback jujur yang sebenarnya dibutuhkan perusahaan untuk belajar dan berkembang.

Keamanan psikologis berperan penting dalam mendorong perilaku menyampaikan opini konstruktif tentang isu-isu di tempat kerja. Hal ini pada akhirnya berkontribusi pada performa tim dan inovasi. Ketika toxic positivity membuat karyawan merasa keluhan atau kritik mereka akan “dianggap negatif”, suara-suara penting yang seharusnya menjadi bahan evaluasi justru dibungkam sejak awal.

4. Berujung pada Perilaku Kerja Kontraproduktif

Toxic positivity bahkan berkaitan dengan counterproductive work behaviour, yaitu perilaku yang gagal memenuhi standar minimum kinerja organisasi. Walaupun toxic positivity bukan bentuk yang ekstrem seperti perundungan di tempat kerja, dampaknya tetap nyata terhadap kepuasan, komitmen, dan performa kerja karyawan yang menjadi sasarannya.

Baca juga: Teknik Pomodoro dan Mindfulness: Kombinasi Jaga Fokus Karyawan

Dampaknya terhadap Kesehatan Mental dan Work Life Balance

Dampaknya terhadap Kesehatan Mental dan Work Life Balance

Selain performa, toxic positivity punya konsekuensi langsung terhadap kesehatan mental karyawan. Pendekatan yang lebih otentik dan empatik sangat penting terhadap kesejahteraan mental di lingkungan kerja modern. Dari sisi work life balance, budaya yang menuntut karyawan selalu tampil “semangat” cenderung mendorong menyembunyikan kelelahan daripada beristirahat.

Karyawan yang merasa tidak boleh mengeluh soal beban kerja berlebih pun lebih sulit menegosiasikan batas waktu kerja yang sehat. Hal ini dipicu karena mengajukan keberatan dianggap bertentangan dengan “budaya positif” perusahaan. Akibatnya, garis batas antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi semakin kabur. Sementara itu, ruang untuk pemulihan energi yang justru krusial untuk menjaga ketenangan kerja justru semakin menyempit.

Membedakan Optimisme Sehat dan Toxic Positivity

Agar lebih mudah dikenali, berikut beberapa pola yang membedakan toxic positivity dari optimisme sehat di tempat kerja:

  • Mengabaikan, bukan mendengarkan. Keluhan langsung dialihkan dengan jargon semangat tanpa upaya memahami akar masalahnya.
  • Solusi instan untuk masalah kompleks. Persoalan sistemik (beban kerja berlebih, target tidak realistis) direduksi menjadi soal “mindset” karyawan semata.
  • Emosi negatif dianggap tabu. Karyawan yang menunjukkan kekhawatiran atau kelelahan dicap “kurang bersyukur” atau “tidak profesional”.
  • Minim ruang evaluasi jujur. Sesi feedback atau evaluasi kinerja hanya berisi pujian generik tanpa membahas tantangan nyata.

Sebaliknya, budaya kerja yang sehat memberi ruang bagi harapan sekaligus penilaian yang akurat terhadap situasi. Hal itu dapat tercermin dari mengakui kesulitan secara jujur, memperlakukan emosi negatif sebagai informasi yang valid, serta bukan ancaman terhadap budaya perusahaan.

Langkah yang Bisa Diambil Karyawan maupun Perusahaan

Langkah yang Bisa Diambil Karyawan maupun Perusahaan
  1. Validasi emosi, bukan hanya solusi. Sebelum menawarkan semangat, dengarkan dulu apa yang sebenarnya dirasakan rekan kerja atau tim.
  2. Bangun jalur pelaporan yang jelas. Sediakan saluran formal (melalui HR, sesi evaluasi kinerja, feedback tertulis) agar karyawan bisa menyuarakan kekhawatiran tanpa takut dicap negatif.
  3. Latih pemimpin untuk psychological safety. Pemimpin perlu belajar merespons masalah dengan rasa ingin tahu, bukan dengan menutupinya lewat kalimat motivasi instan.
  4. Jaga kesadaran emosi pribadi. Menulis jurnal, konsultasi dengan profesional kesehatan mental, atau menjaga relasi tepercaya di luar pekerjaan dapat membantu karyawan tetap terhubung dengan kondisi emosinya yang sebenarnya.
  5. Evaluasi kebijakan work life balance secara berkala. Perusahaan perlu memastikan target kerja dan ekspektasi beban kerja realistis, bukan sekadar mengandalkan slogan semangat untuk menutupi masalah struktural.

Baca juga: Manfaat Growth Mindset Agar Sukses dalam Hidup dan Karir

Payuung Hadir untuk Menjaga Kesehatan Mental dan Work Life Balance

Menyadari tanda-tanda toxic positivity adalah langkah awal, tapi menjaga kesehatan mental dan keseimbangan hidup butuh dukungan yang berkelanjutan. Payuung hadir sebagai platform yang bisa membantumu maupun timmu membangun kebiasaan well being yang lebih sehat.

Payuung juga hadir dengan pendekatan yang lebih menyeluruh untuk menjaga kesejahteraan karyawan, tidak sekadar slogan semangat tanpa tindak lanjut. Lewat 7 pilar kesejahteraan karyawan, perusahaan bisa menyediakan solusi konkret seperti pengembangan karir karyawan hingga apresiasi reward karyawan. Ditambah proteksi kesehatan dan jiwa yang menyeluruh, karyawan bisa bekerja dengan pikiran yang tenang, bukan sekadar dorongan semangat yang semu.

Payuung Hadir untuk Menjaga Kesehatan Mental dan Work Life Balance

Tak hanya itu, Payuung juga terintegrasi secara dengan Gadjian dan Hadirr. Integrasi ini memudahkan pengelolaan slip gaji (payroll) hingga presensi harian, sehingga perusahaanmu dan tim HR tidak lagi dipusingkan oleh administrasi yang rumit. Saat urusan pekerjaan dan keuangan terkelola secara praktis, ketenangan pikiran dan work-life balance sejati pun lebih mudah diraih!

Mari, mulai perjalanan menjaga kesehatan mentalmu bersama Payuung sekarang!

Daftar Presentasi Payuung

Referensi:

Bal, Y., & Kökalan, Ö. (2021). The moderating effect of religiosity on the relationship between burnout and job satisfaction. Frontiers in Psychology, 12. doi: https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.750493

Toto Handiman, U., Fitriana, Y.S., Rawi Dandono, Y., & Ariyanto, B. (2026). Review of toxic positivity: the smile that kills organizational culture. International Journal of Economics, Business and Management Research. doi: 10.51505/ijebmr.2026.10405