Technostress di tempat kerja adalah stres akibat penggunaan teknologi digital yang berlebihan untuk bekerja, seperti email, aplikasi chat, rapat online, dan sistem kerja baru. Stres karena teknologi muncul saat tuntutan digital melebihi kapasitas kamu untuk mengelolanya. Tandanya antara lain lelah mental, sulit fokus, dan susah lepas dari pekerjaan setelah jam kantor.

Data Microsoft Work Trend Index 2025 mencatat karyawan menerima gangguan dari rapat, email, atau notifikasi setiap 2 menit selama jam kerja inti. Jika aktivitas di luar jam kerja dihitung, totalnya mencapai 275 gangguan per hari. Survei juga menunjukkan 48% karyawan merasa pekerjaan mereka kacau dan terpecah-pecah. Artikel ini mengulas arti, penyebab, gejala, dan cara mengatasi technostress. Simak sampai tuntas, ya!

Perbedaan Technostress dan Digital Overload

Dua istilah ini sering tertukar. Digital overload adalah kondisi saat arus informasi, notifikasi, dan aplikasi melebihi kapasitas kamu untuk mengolahnya. Sementara itu, technostress yaitu reaksi stres dari kondisi tersebut.

Contohnya, kamu menerima ratusan email dan puluhan chat dalam sehari. Itu digital overload. Adapun rasa cemas, sulit fokus, dan lelah setelah membaca semuanya disebut technostress.

Baca juga: Kenali Gaslighting di Tempat Kerja dan Cara Menghadapinya

Digital overload tidak selalu memicu technostress. Dampaknya berbeda pada tiap orang, tergantung kebiasaan kerja, kemampuan memakai teknologi, dan dukungan perusahaan. Berikut adalah karakteristik pembedanya.

Tabel Perbedaan Technostress dan Digital Overload

AspekDigital overloadTechnostress
SifatKondisi di lingkungan kerjaReaksi stres pada diri karyawan
PenyebabVolume informasi, notifikasi, dan aplikasi berlebihDigital overload, sistem sulit dipakai, tuntutan selalu terhubung, rasa terancam teknologi
ContohRatusan email dan chat masuk dalam sehariCemas, lelah, dan sulit tidur setelah jam kerja
Fokus penangananKurangi dan rapikan arus informasiKelola reaksi dan perbaiki kebijakan kerja

Technostress berkepanjangan juga berdampak pada karier, utamanya penurunan kepuasan kerja, komitmen pada perusahaan, produktivitas, dan work-life balance. Penurunan ini memengaruhi performa kerja, sementara performa menjadi dasar penilaian karier. Istilah technostress biasanya dipakai luas dalam riset sistem informasi dan psikologi kerja.

5 Penyebab Technostress di Tempat Kerja

5 Penyebab Technostress di Tempat Kerja

Berikut adalah lima penjelasan tiap penyebab di tempat kerja:

1. Beban Kerja Digital Berlebih (Techno-Overload)

Techno-overload terjadi saat teknologi memaksa kamu bekerja lebih cepat dan lebih lama. Informasi datang dari banyak kanal sekaligus, dan kamu perlu memilah mana prioritas. Data Microsoft (2025) mencatat gangguan setiap 2 menit selama jam kerja inti, sehingga waktu fokus sulit terbentuk. Dampaknya, pekerjaan inti tertunda dan jam kerja memanjang.

2. Batas Kerja dan Kehidupan Pribadi yang Kabur (Techno-Invasion)

Techno-invasion terjadi saat teknologi membuat kamu terhubung terus tanpa batas ruang dan waktu. Tugas kerja masuk ke waktu pribadi dan mengganggu work-life balance. Microsoft (2025) mencatat rapat setelah pukul 8 malam naik 16% dari tahun ke tahun. Studi dari Zhang et al. (2022) pada 254 karyawan R&D menunjukkan techno-invasion berpengaruh paling besar terhadap kelelahan kerja di antara penyebab lain dan batas jam kerja perlu dijaga lebih dulu.

3. Sistem Baru yang Terasa Rumit (Techno-Complexity)

Techno-complexity muncul saat teknologi baru terasa rumit dan butuh usaha besar untuk dipahami. Contohnya pergantian aplikasi presensi online, HRIS, atau sistem pelaporan tanpa pelatihan memadai. Karyawan merasa kurang kompeten, padahal masalahnya ada pada proses adaptasi. Hasilnya, tugas sederhana memakan waktu lebih lama dan rasa percaya diri turun.

Baca juga: Pulih dari Bullying di Kantor Tanpa Harus Buru-Buru Resign

4. Rasa Terancam oleh Teknologi (Techno-Insecurity)

Techno-insecurity adalah persepsi bahwa teknologi dan tuntutan untuk selalu mengikuti pembaruan mengancam pekerjaan kamu. Kecemasan ini muncul saat otomatisasi atau ancaman AI mulai mengambil sebagian tugas. Karyawan sering merasa perlu terus belajar keterampilan baru agar tetap relevan. Tekanan itu berlangsung lama dan sulit hilang tanpa kepastian arah pengembangan karier.

5. Perubahan Teknologi Tanpa Jeda (Techno-Uncertainty)

Techno-uncertainty muncul dari perubahan dan pembaruan teknologi berlangsung terus-menerus. Tools kerja, antarmuka, dan alur kerja berubah sebelum karyawan sempat menguasai versi sebelumnya. Tekanan baru datang sebelum tekanan lama selesai.

Studi dari Zhang et al. (2022) pada 254 karyawan R&D tersebut mencatat techno-overload dan techno-uncertainty tidak berhubungan signifikan dengan kelelahan kerja. Dampak tiap penyebab berbeda pada tiap kelompok karyawan, jadi kenali penyebab dominan di tempat kerjamu.

Gejala Technostress

Literatur review oleh Brivio et al (2018) diketahui gejala dari technostress yakni gejala fisiknya berupa kelelahan, mudah tersinggung, dan sulit tidur. Di samping itu, gejala psikologisnya meliputi rasa frustrasi, beban mental dan tekanan waktu terasa meningkat, serta perasaan yang tidak karuan. Perhatikan tanda berikut dalam keseharianmu:

  • Lelah di akhir hari padahal tidak banyak bergerak.
  • Sulit tidur setelah melihat notifikasi kerja.
  • Mudah kesal saat ada pesan baru masuk.
  • Sibuk seharian, tetapi hasil kerja terasa sedikit.
  • Kepuasan kerja menurun dan komitmen pada pekerjaan melemah.

Hubungan Technostress, Digital Overload, dan Burnout

Digital overload berkepanjangan membuat stres kerja menumpuk. WHO (2019) mendefinisikan burnout sebagai sindrom akibat stres kerja kronis dan tidak berhasil dikelola, dengan tiga ciri yaitu kelelahan energi, jarak mental terhadap pekerjaan, dan menurunnya profesionalitas. WHO mengategorikan burnout sebagai fenomena okupasi, bukan kondisi medis.

Jika dibiarkan, kelelahan kerja akibat technostress dapat berkembang menjadi burnout.

Cara Mengatasi Technostress di Tempat Kerja

Cara Mengatasi Technostress di Tempat Kerja

Langkah untuk Karyawan

  • Matikan notifikasi tidak penting. Sisakan notifikasi dari atasan dan klien utama.
  • Jadwalkan waktu cek email dan chat, misalnya tiga kali sehari, agar waktu fokus tidak terpotong.
  • Tetapkan batas jam kerja. Setelah jam kantor, keluar dari aplikasi chat kerja atau aktifkan mode jangan ganggu.
  • Kurangi jumlah aplikasi. Sepakati satu kanal aplikasi untuk tiap jenis komunikasi.
  • Minta pelatihan saat ada sistem baru, jangan belajar sendiri sambil mengejar target.

Jeda singkat juga membantu. Kamu juga bisa mencoba teknik Pomodoro, yaitu kerja 25 menit lalu istirahat 5 menit tanpa layar. Saat pikiran terasa penuh, latih mindful grounding 5-4-3-2-1.

Baca juga: Hustle Culture Detox: Keluar dari Budaya Kerja Berlebihan?

Langkah untuk Perusahaan dan HR

  • Sepakati jam respons. Pesan di luar jam kerja tidak wajib dibalas hari itu juga.
  • Tentukan fungsi tiap kanal. Email untuk informasi formal, chat untuk urusan cepat, rapat untuk keputusan.
  • Kurangi rapat dadakan. Microsoft mencatat 57% rapat berlangsung tanpa undangan kalender, dan rapat setelah pukul 8 malam naik 16% dari tahun ke tahun.
  • Beri pelatihan dan alasan perubahan sebelum meluncurkan sistem baru.
  • Sediakan dukungan kesehatan mental dan finansial agar karyawan punya tempat bersandar saat tekanan kerja meningkat.

Kebiasaan Digital Wellbeing Harian

Digital wellbeing adalah kemampuan mengatur penggunaan teknologi agar tetap sehat secara fisik dan mental. Kamu bisa memulai dari rutinitas kecil berikut.

WaktuKebiasaanTujuan
PagiTentukan 3 prioritas kerja sebelum cek email dan chatMengurangi reaksi spontan pada notifikasi
SiangMakan siang 20 menit tanpa menyentuh pekerjaanMemberi jeda mental
SoreBalas pesan tertunda dalam satu sesiMenjaga blok fokus tidak terpecah
MalamMatikan notifikasi kerja dan simpan ponsel kerja di luar kamar tidurMelindungi waktu istirahat dan kualitas tidur

Kelola Technostress Bersama Payuung

Stres kerja akibat teknologi dapat memengaruhi fokus, energi, dan ketenangan karyawan. Ruang untuk bercerita dan mendapat arahan profesional pasti akan sangat dibutuhkan oleh karyawan. Payuung menyediakan fasilitas konseling dan dukungan kesehatan mental profesional untuk tim perusahaan melalui Solusi Konseling Karyawan.

Fasilitas Konseling Karyawan

Benefit ini akan sangat memudahkan karyawan langsung memanfaatkan layanannya tanpa alur birokrasi yang ribet. Ditambah lagi jika perusahaanmu sudah berafiliasi dengan Gadjian, penggunaan akses dan monitoring penggunaan akan terintegrasi dengan alur operasional HR perusahaanmu. Kesejahteraan dan produktivitas akan terjamin meningkat karena karyawan benar-benar merasa didukung terkait kondisi dirinya.

Perusahaanmu ingin membangun lingkungan kerja yang green flag? Pelajari fasilitas Solusi Konseling Karyawan untuk tim perusahaanmu! Atau jika kamu adalah seorang karyawan dan perusahaanmu belum berafiliasi dengan Payuung, kamu bisa akses layanan konseling secara individual melalui Payuung Pribadi.

Daftar Presentasi Payuung

Referensi

Brivio, E., Gaudioso, F., Vergine, I., Mirizzi, C. R., Reina, C., Stellari, A., & Galimberti, C. (2018). Preventing technostress through positive technology. Frontiers in psychology, 9, 2569. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2018.02569

Microsoft WorkLab (2025, 17 Juni). Breaking down the infinite workday. https://www.microsoft.com/en-us/worklab/work-trend-index/breaking-down-infinite-workday

World Health Organization (2019). Burn-out an occupational phenomenon: International Classification of Diseases. https://www.who.int/news-room/detail/28-05-2019-burn-out-an-occupational-phenomenon-international-classification-of-diseases

Zhang, Z., Ye, B., Qiu, Z., Zhang, H. & Yu, C. (2022). Does technostress increase R&D employees’ knowledge hiding in the digital era? Front. Psychol, 13(873846). doi: 10.3389/fpsyg.2022.873846