Kesehatan mental di tempat kerja adalah kondisi kesejahteraan psikologis karyawan saat menjalankan tanggung jawab profesional, berinteraksi dengan rekan kerja, dan menghadapi tekanan pekerjaan. 

Seringkali, masalah pribadi di rumah dapat mengganggu fokus kerja. Sebaliknya, tekanan pekerjaan juga dapat terbawa hingga ke rumah dan mengurangi waktu istirahat. Adapun cara menjaga kesehatan mental di tempat kerja bisa kamu mulai dengan mengenali tanda stres, mengambil jeda sejenak, menetapkan batasan kerja, serta mencari dukungan profesional saat diperlukan.

Kesehatan mental menjadi salah satu agenda penting yang dibahas dalam event “Anxious di Rumah, Burnout di Kantor” oleh Payuung pada tanggal 10 Oktober 2026. Event ini juga bertepatan dengan World Mental Health Day sekaligus menjadi momentum peluncuran layanan Konseling & Konsultasi Payuung Pribadi.

Pentingnya Kesehatan Mental di Tempat Kerja

Pentingnya Kesehatan Mental di Tempat Kerja

Event “Anxious di Rumah, Burnout di Kantor” untuk memperingati hari kesehatan mental ini telah berlangsung dalam suasana hangat dan terbuka. Peserta berbagi pengalaman serta menyampaikan pandangan tentang kesehatan mental dan pentingnya mendengarkan penuh empati tanpa menghakimi. 

Salah satu refleksi yang dibagikan oleh salah satu peserta event ini di LinkedIn pribadinya turut menyoroti peran kesehatan mental dan sosial dalam kesejahteraan seseorang.  Hal tersebut tentunya mengingatkan bahwa perhatian terhadap kesehatan mental harus hadir dalam kehidupan pribadi maupun pekerjaan. Dukungan perlu tersedia sebelum tekanan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Para peserta event juga membagikan pengalamannya secara anonim mengenai alasan-alasan yang membuatnya merasa burnout di pekerjaan. Secara langsung, ini mendorong peserta untuk lebih mengenali penyebabnya dan sebagai bentuk katarsis.

Katarsis Peserta

Baca juga: Hustle Culture Detox: Keluar dari Budaya Kerja Berlebihan?

Mengapa Kesehatan Mental di Tempat Kerja Perlu Diperhatikan?

Mengapa Kesehatan Mental di Tempat Kerja Perlu Diperhatikan?

Kesehatan mental sudah pasti akan memengaruhi konsentrasi, pengelolaan emosi, komunikasi, serta kemampuanmu menghadapi tekanan kerja. Hafiza Putri Sukmana, M.Psi., Psikolog, mengajak para peserta mengenali kondisi diri saat menghadapi tekanan. Beliau menguraikan perbedaan stres dan kecemasan sebagai langkah awal untuk memahami respons diri terhadap situasi sulit.

Stres umumnya berkaitan dengan tekanan akibat situasi tertentu, sedangkan kecemasan berkaitan dengan kekhawatiran terhadap hal-hal mendatang yang belum pasti. Keduanya dapat memengaruhi keseharian saat beban pikiran sulit untuk kita kontrol.

Sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, serta merasa kewalahan merupakan beberapa tanda untuk mulai mengevaluasi kondisi diri. Mengenali perubahan tersebut membantu karyawan mempertimbangkan langkah untuk lebih memperhatikan kondisi diri atau mencari dukungan profesional.

Apa Peran Perusahaan dalam Menjaga Kesehatan Mental Karyawan?

Apa Peran Perusahaan dalam Menjaga Kesehatan Mental Karyawan?

Kesehatan mental di tempat kerja membutuhkan perhatian dari karyawan, atasan, serta perusahaan. Patrick Simanjuntak, MBA, ACC, sebagai Growth Leadership Coach & Advisor, mengingatkan bahwa tanggung jawab tersebut tidak berhenti pada individu, melainkan tanggung jawab bersama.

Perusahaan berperan membangun lingkungan kerja suportif melalui penetapan target realistis, komunikasi yang terbuka, pengelolaan beban kerja, serta pemberian waktu istirahat memadai. Target atau KPI tetap perlu diperhatikan, tetapi perlu disertai pengaturan prioritas dan dukungan sesuai kebutuhan tim.

Atasan perlu menyediakan ruang aman bagi karyawan untuk menyampaikan kendala. Komunikasi terbuka membantu tim mengidentifikasi hambatan, mendiskusikan prioritas, serta mencari solusi sebelum tekanan kerja memengaruhi kesejahteraan karyawan.

Sebagai HR, kesehatan mental dapat menjadi bagian dari strategi employee well-being. Program benefit karyawan, akses konseling, serta kebijakan kerja sehat membantu perusahaan merespons kebutuhan tim secara lebih terarah. 

Baca juga: Sering Mengalami Kecemasan Kerja? Lakukan Mindful Grounding (Teknik 5-4-3-2-1) Segera!

Bagaimana Cara Menjaga Work-Life Balance di Tengah Tekanan Kerja?

Work-life balance adalah kondisi saat seseorang mampu mengelola tuntutan pekerjaan serta kehidupan pribadi sesuai kebutuhan dan tanggung jawabnya. Keseimbangan ini dapat dijaga melalui kebiasaan sehat, pengaturan waktu, serta dukungan lingkungan kerja.

Insight dari event Payuung ini menyoroti tiga langkah praktis untuk menjaga work-life balance tersebut, mulai dari mengenali kondisi diri, menetapkan batasan kerja, hingga membangun lingkungan saling mendukung.

1. Mengenali Kondisi Diri dan Mengambil Jeda

Karyawan perlu peka dan memperhatikan perubahan emosi, konsentrasi, serta respons tubuh saat menghadapi tekanan. Ketika mulai merasa kewalahan, jeda sejenak akan memberi ruang untuk beristirahat sebelum kembali bekerja tanpa doom scrolling.

Beberapa aktivitas sederhana teknik mindfullness meliputi stretching ringan dan latihan napas sangat membantu untuk menjaga fokus serta pikiran agar lebih tenang. Menuliskan pengalaman apa yang dipikirkan dan dirasakan dengan metode journaling juga membantu kamu lebih mengenali sumber tekanan serta mempertimbangkan langkah berikutnya.

Waktu istirahat perlu memberi kesempatan bagi pikiran untuk beralih dari tuntutan pekerjaan. Mengurangi kebiasaan memeriksa notifikasi selama waktu istirahat turut membantu menjaga batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

2. Menetapkan Batasan Kerja secara Seha

Pesan pekerjaan di luar jam kerja serta penambahan tugas tanpa pengaturan prioritas dapat mengganggu waktu istirahat. Ketika merasa mulai kewalahan karena beban kerja sulit dikelola, kamu dapat menyampaikan kendalanya kepada atasan untuk mendiskusikan prioritas serta pembagian tugas.

Menetapkan batasan bukan berarti mengabaikan tanggung jawab. Langkah ini akan sangat membantu kamu sebagai karyawan untuk mengatur waktu, menjaga kebutuhan istirahat, serta mempertahankan konsistensi kerja.

Batasan kerja juga membutuhkan dukungan perusahaan. Kesepakatan mengenai jam komunikasi, prioritas tugas, serta waktu istirahat membantu memperjelas ekspektasi kerja bagi seluruh tim.

3. Membangun Lingkungan Kerja Suportif

Lingkungan kerja yang sehat dan green flag akan sangat  memberi ruang bagi karyawan untuk menyampaikan pendapat, berbagi kendala, serta meminta bantuan tanpa takut mendapat penilaian negatif. Dukungan tersebut dapat dimulai melalui kebiasaan mendengarkan rekan kerja dengan empati.

Atasan perlu menanggapi kendala secara terbuka serta membantu tim menentukan langkah penyelesaian. Bagi HR, penting juga untuk memahami cara menangani stres pada karyawan, termasuk dengan memberi ruang bagi karyawan untuk menyampaikan kendala dan mendapatkan dukungan.

Pendekatan ini menempatkan kesehatan mental sebagai bagian dari kesejahteraan karyawan. Pada akhirnya, tetap bahwa untuk mewujudkan lingkungan yang sehat mental merupakan hasil kolaborasi bersama dan bukan menjadi tanggung jawab individual saja.

Baca juga: Antara Financial Wellbeing dan Kesehatan Mental Karyawan

Apa Langkah Kecil untuk Mulai Menjaga Kesehatan Mental?

Apa Langkah Kecil untuk Mulai Menjaga Kesehatan Mental?

Akhir diskusi di event ini, Patrick Simanjuntak, MBA, ACC mengajak peserta mengevaluasi kebiasaan melalui tiga pertanyaan reflektif, yaitu: 

What to start? Hal apa yang ingin mulai dilakukan untuk menjaga kesehatan mental?

What to stop? Kebiasaan apa yang perlu dikurangi karena menguras energi?

What to continue? Hal baik apa yang ingin dipertahankan?

Perubahan tidak perlu dilakukan sekaligus. Memilih satu langkah realistis untuk diterapkan secara konsisten dapat menjadi awal dalam menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Hal itu bisa dimulai dengan berhenti mengecek pesan kerja saat istirahat hingga meluangkan waktu untuk bercerita kepada orang yang dipercaya dan sudah pasti profesional.

Mulai Satu Perubahan Kecilmu Bersama Payuung!

Mulai Satu Perubahan Kecilmu Bersama Payuung!

Sebagai karyawan, kamu perlu mempertimbangkan dukungan profesional saat tekanan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan pribadi, konsentrasi, atau waktu istirahat. Konseling menyediakan ruang bagi individu untuk membicarakan kendala serta mempertimbangkan strategi penanganan sesuai kebutuhan. Konseling dapat dilakukan oleh siapapun yang memerlukan, bukan berarti kamu lemah atau punya penyakit mental, ya.

Layanan Konseling & Konsultasi melalui Payuung Pribadi sudah dapat kamu akses untuk memperoleh dukungan profesional secara individual. Konselor dan psikolognya sudah pasti memahami kode etik profesinya dan dipastikan rahasiamu aman, diterima secara apa adanya, tanpa adanya rasa dihakimi. Unduh sekarang aplikasinya melalui Google Play atau Apps Store, ya!

Bagi HR dan perusahaan, Solusi Konseling Karyawan dari Payuung dapat menjadi pilihan untuk mendukung kesejahteraan karyawan melalui akses konseling kesehatan mental dan konseling finansial.

Ingin dikenal sebagai perusahaan green flag yang karyawannya sejahtera? Yuk, bertransformasi denganPayuungsekarang!

Daftar Presentasi Payuung