Cara menghadapi bullying di kantor tanpa harus resign bisa dimulai dari empat langkah inti, yaitu dokumentasikan setiap kejadian, tetapkan batasan komunikasi secara tegas, bangun support system dari rekan dan keluarga, lalu laporkan secara resmi ke HR kalau pola tersebut berulang. Apabila laporan resmi sudah masuk tapi perusahaan tidak menindaklanjuti dalam waktu wajar, resign baru jadi opsi realistis untuk melindungi kesehatan mental jangka panjang.

Survei nasional International Labour Organization (ILO) (2023) terhadap 1.175 karyawan Indonesia mencatat 70,81% responden pernah mengalami kekerasan atau pelecehan di tempat kerja, dan 77,40% di antaranya berbentuk kekerasan psikologis. Hal tersebut termasuk bullying verbal dan pengucilan. Dilansir dari Kompas id., Kementerian Kesehatan mencatat 2.621 laporan perundungan sepanjang 2025, dengan 620 laporan masuk kategori bullying di lingkungan kerja tenaga medis. Data ini menunjukkan, kalau kamu ngerasa jadi korban bullying di kantor, kondisi ini dialami banyak pekerja lain di Indonesia. Kamu tidak sendirian, ya, untuk berjuang dari perlakuan bullying.

Bagian selanjutnya kita akan kupas tanda bullying secara spesifik, strategi bertahan tanpa resign, hingga tanda harus segera membuat keputusan.

Kenali Dulu, Ini Bullying atau Sekadar Gesekan Kerja

Kenali Dulu, Ini Bullying atau Sekadar Gesekan Kerja

Konflik kerja biasa umumnya terjadi sesekali dan berhubungan dengan pekerjaan itu sendiri. Namun, bullying berbeda. Sifatnya berulang, personal, dan tujuannya merendahkan.

Adapun beberapa tanda konkret bullying di kantor:

  • Dikritik terus-menerus tanpa solusi perbaikan.
  • Sengaja diabaikan dalam rapat atau proyek penting.
  • Jadi bahan lelucon soal fisik atau latar belakang keluarga.
  • Dibebani kerjaan di luar kapasitas tanpa dukungan.
  • Promosi ditahan tanpa alasan performa jelas.

Kalau pola ini berulang selama beberapa minggu, itu sinyal cukup kuat untuk mulai ambil langkah.

Baca juga: 5 Cara Mengelola Kecemasan Akibat Ancaman AI di Tempat Kerja

Kenapa Banyak Korban Pilih Diam dan Bertahan

Kenapa Banyak Korban Pilih Diam dan Bertahan

Alasan paling umum karyawan lebih memilih diam adalah takut dicap “drama” atau tidak profesional. Selain itu, biasanya juga takut posisi kerja terancam sampai merasa belum punya cukup bukti untuk lapor.

Diam bukan solusi jangka panjang. Buru-buru resign tanpa strategi juga berisiko, apalagi kalau belum ada pekerjaan pengganti. Titik tengahnya, kamu perlu strategi bertahan sambil tetap jaga kesehatan mental.

Baca juga: Kenali Gaslighting di Tempat Kerja dan Cara Menghadapinya

Langkah Hadapi Bullying di Kantor Tanpa Resign

Langkah Hadapi Bullying di Kantor Tanpa Resign

1. Dokumentasikan setiap kejadian. Catat tanggal, konteks, dan bentuk perlakuan tidak wajar. Simpan bukti tertulis seperti chat, email, atau bukti melalui rekaman video.

2. Tentukan batasan komunikasi. Kalau situasi masih memungkinkan dialog langsung, sampaikan batasan secara tenang dan spesifik.

3. Bangun support system di dalam dan luar kantor. Cari rekan kerja terpercaya sebagai saksi sekaligus tempat cerita. Di luar kantor, kamu juga perlu menjaga komunikasi dengan keluarga atau teman dekat.

4. Jaga rutinitas pemulihan pribadi. Tidur cukup, olahraga ringan, dan waktu istirahat dari kerja membantu tubuh tetap stabil menghadapi kecemasan kerja berkepanjangan.

5. Laporkan secara resmi kalau pola terus berulang. Bawa bukti dan kronologi ke HR atau atasan langsung tanpa tambahan asumsi pribadi.

6. Konsultasi ke profesional kalau dampaknya mulai ganggu fungsi harian. Intervensi konseling dan pendampingan profesional secara umum berhasil menurunkan tingkat bullying yang dialami korban di tempat kerja.

Kapan Resign Jadi Pilihan Lebih Sehat?

Kapan Resign Jadi Pilihan Lebih Sehat

Bertahan bukan berarti harus tahan selamanya. Pertimbangkan resign kalau:

  1. Laporan resmi sudah diajukan tapi perusahaan tidak ambil tindakan,
  2. Kondisi kesehatan fisik atau mental mulai terganggu serius,
  3. Lingkungan kerja terbukti tidak berubah meski sudah ada eskalasi berulang,

Resign dalam kondisi ini bukan tanda kalah, tapi ini adalah langkah untuk melindungi diri dan bentuk peduli pada diri sendiri.

Baca juga: Quarter Life Crisis di Usia 25-30: Kenapa Membingungkan?

Dukungan Tidak Harus Datang Sendirian

Proses pulih dari bullying kantor jauh lebih ringan kalau kamu punya akses ke dukungan tepat. Kamu nggak perlu tunggu kondisi kritis dulu baru cari bantuan.

Bullying di kantor juga bukan cuma masalah personal korban, tapi juga cerminan iklim kerja perusahaan secara keseluruhan. Kalau dibiarkan, dampaknya bisa merembet ke burnout, tingkat resign dan turnover tinggi, sampai reputasi perusahaan sebagai tempat kerja tidak sehat.

Demi menciptakan lingkungan kerja yang green flag, Payuung hadir sebagai platform kesejahteraan karyawan yang menyediakan paket benefit karyawan. Ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Benefit tersebut mulai dari konseling profesional, proteksi kesehatan, solusi keuangan karyawan, dan benefit menguntungkan lainnya.

Fasilitas Konseling Karyawan

Khusus untuk isu kesehatan mental, Payuung punya benefit yang menghubungkan karyawan ke psikolog profesional yang mudah diakses kapan saja. Fasilitas ini membantu perusahaan menangani isu kesehatan mental sebelum berkembang jadi masalah lebih besar buat perusahaanmu.

Perusahaanmu ingin membangun lingkungan kerja yang green flag juga? Pelajari benefit Employee Assistance Program (EAP) & Benefit Kesehatan Mental dari Payuung untuk perusahaanmu!

Daftar Presentasi Payuung

Referensi:

Aranditio, S. (2025). Ratusan kasus kekerasan dokter PPDS mencoreng dunia kesehatan Indonesia. Kompas id. https://www.kompas.id/artikel/ratusan-kasus-kekerasan-dokter-ppds-mencoreng-dunia-kesehatan-indonesia

International Labour Organization. (2022). 10 important findings: Survey on violence and harassment in the world of work in Indonesia 2022. https://www.ilo.org/publications/10-important-findings-survey-violence-and-harassment-worl d-work-indonesia.